Tak Perlu Norak, Badai Pasti Berlalu

Tak Perlu Norak, Badai Pasti Berlalu


Akhir-akhir ini saya banyak melihat suara-suara minoritas yang kepahitan di Fb atas tindakan yang tidak menyenangkan oleh sekelompok orang yang sedang mengganggu umat lain yang sedang beribadah. Surga dunia ini sudah mulai panas. Padahal lagi musim hujan. Mungkin sudah seinchi dekat dengan neraka. Saya sendiri yang menyaksikan adegan-adegan kampungan oleh sekelompok orang yang semena-mena terhadap orang-orang yang sedang menjalankan ibadah ini bawaannya kalem saja. Lhaaaa….

Bukan, bukan karena bukan saya yang diganggunya makanya saya tidak murka. Tapi perlu diingat, ini bulan dimana pesan damai itu perlu diwartakan. Lantas bagaimana mau mewartakan kedamaian kalau hati sendiri panas dan tidak damai? Itu omong kosong besar! Justru di momen inilah kita diuji apakah benar kita ini pembawa damai? Paling tidak dimulai dari diri sendiri lebih dulu. Jangan sampai saat bulan puasa, kita sangat gencar mengkritik orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa sebagai orang yang tidak toleran dan tidak sanggup menjalankan ibadah puasa di tengah banyaknya godaan. Bukankah sekarang kita juga digoda dan diuji? Hayooo.. Atau jangan-jangan Natal itu sebatas melestarikan atribut dan kemewahan?

Jika selama ini kita gencar mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan koq dibela? Lha, apa bedanya dengan kita yang sedang membela ego identitas dan kenyamanan? Bukankah bayi Yesus yang terlahir ke dunia masuknya melalui sebuah kandang yang bisa dikata jauh dari kenyamanan dan kemewahan? Koq kita jadi kontras dari esensi ya? Ataukah memang hanya damai saat segala sesuatunya berjalan dengan baik dan sesuai harapan? Mungkin kejadian ini melatih kita untuk memaknai pesan Natal dengan cara yang berbeda agar keimanan kita bisa sedikit naik kelas. Tidak begitu-begitu saja. Berterima kasihlah kepada mereka yang mau memfasilitasi kita untuk memahami ini. Kalau sudah begini, iblis-iblis di neraka meradang dan nangis manja. Karena upayanya gagal maning gagal maning.

“Tapi kenyataannya kita ini minoritas yang memang selalu diperlakukan semena-mena.”

Memangnya kenapa kalau menjadi minoritas? Menjadi minoritas tidak harus menjadikan diri kita sedikit-sedikit mengasihani diri sendiri. Jadilah minoritas rasa mayoritas. Kita boleh sedikit tapi harus lebih cerdik dan kuat. Seperti Daud kecil yang melawan Goliat raksasa. Goliat boleh punya banyak pasukan dan perlengkapan perang. Kita hanya sedikit, kecil pula dan bermodalkan ketapel saja. Tak ada yang mustahil jika kita cukup cerdik. Ingatlah bahwa kekuatan itu tidak bisa diukur dari banyaknya massa, tapi dari strategi dan kecerdikan yang mumpuni. Kita bisa menang tanpa harus menyerang. Jadilah umat yang jenius. Karena apa gunanya rajin bertepuk tangan dan bernyanyi jika hikmat saja tidak punya.

“Tapi kita perlu memperjuangkan hak untuk beribadah dengan baik.”

Benar! Itu harus. Tapi tidak dengan kepahitan. Jangan mau meracuni diri sendiri sehingga mengusir rasa damai yang ada. Berjuanglah dengan cara cerdik nan elegan. Tidak usah unjuk taring dan pamer airmata. Agar mereka menjadi bingung. Karena ketika mereka bingung, mereka pun linglung dan berpotensi pecah kongsi. Karena yang mereka inginkan ya kita lusuh lalu rusuh. Jangan mau menjadi kendaraan mereka untuk melancarkan kepentingan mereka. Karena ketika kita murka dan selalu mengadu, yang pusing adalah pemerintah sehingga pemerintah tidak fokus membangun Indonesia menjadi taman Firdaus yang layak huni. Dan itulah target mereka. Maka tidak perlu mendadak cengeng dan radikal ketika ego identitas disenggol. Karena Tuhan juga memahami nyanyian dan perenungan dalam hati. Apalah arti sebuah perayaan jika hati sebenarnya menjadi ciut?

Jika mau melawan mereka, jangan dengan cara kampungan dan norak, apalagi menghabiskan energi untuk meneriaki mereka. Tapi fokuslah mendukung kekuatan yang sebenarnya membuat mereka gentar. Ya, dengan mendukung pemerintah dalam mewujudkan Indonesia menjadi surga yang tidak perlu diperdebatkan lagi sebelum kita berangkat ke surga keabadian yang selama ini tak ada habisnya untuk diperdebatkan. Karena apa yang sebenarnya mereka perangi adalah apa yang paling mereka takuti. Bangunlah menara kekuatan di sana. Jadilah setrong, hematlah energi untuk hal yang lebih esensial sampai mereka kehabisan cara dan akal. Karena ketika Indonesia ini menjadi taman Firdaus, maka para iblis akan terusir dengan sendirinya. Terusir dalam artian para iblis pulang kampung dan bangsa ini kembali ke akal sehat dan hati nuraninya.

“Tulus seperti merpati, cerdik seperti ular”. Itulah prinsip politik yang perlu dipegang. Ingatlah politik yang paling mengerikan itu adalah melakukan perlawanan elegan yang tak disangka-sangka. Mereka boleh menilai kita sebagai kaum tertindas dengan diamnya kita. Tapi mereka tidak perlu tahu kekuatan dan strategi yang kita miliki. Dalam kasus ini sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan tapi tidak dipublikasikan ke publik. Apa itu? Saya rasa tidak perlu membukanya. Karena memang tidak perlu heboh-hebohan. Yang penting tujuannya tercapai.

Dan ingat, tetaplah makan Sari Roti, minum Equil, nonton Metro TV dan kuliah di UKDW. Semuanya tetap berjalan sebagaimana biasanya. Setidaknya itu membuat mereka blingsatan dan jumpalitan. Sehingga merasa diri terlalu kerdil meski awalnya merasa besar untuk melakukan perubahan yang ternyata berujung kepada kesia-siaan. Ya, hanya sebatas butiran debu. Karena sebenarnya sebagian besar mayoritas lebih berpihak kepada perdamaian universal daripada kepentingan golongan. Maka di saat itu tidak ada lagi istilah mayoritas minoritas berdasarkan suku, agama dan ras. Karena kekuatan terbesar ada pada satu visi yang bersifat universal — perdamaian untuk Indonesia hebat!

Ya sudah. Kembalilah bertepuk tangan dan bernyanyi.

Selamat mewartakan perdamaian.

Related product you might see:

Share this product :
 
Support : Creating Website | QQ96ace Template | Joe Template
Copyright © 2011. Berita Dan Info Terbaru - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Joe Template
Proudly powered by Blogger